Pidato Severn Suzuki, 12 th di Ruang Sidang PBB

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki. Seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak-anak yang mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konferensi Lingkungan hidup PBB tahun 1992. Pada saat itu, Seveern yg berusia 12 tahun, memberikan sebuah pidato yang sangat kuat yang memberikan pengaruh besar (dan membungkam) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun, hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, dan saat pidatonya selesai, ruang sidang yang penuh dengan orang-orang terkemuka berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun itu?

Inilah Isi pidato tersebut: ( sumber The Collage Foundation )

Continue reading

Refleksi akhir tahun 2008: Lakukan dengan cara yang berbeda

“Untuk mendapatkan hasil yang jauh berbeda,
jangan lakukan dengan cara yang sama ….”

Setahun lalu, saya membuat beberapa keputusan besar yang harus saya lakukan pada tahun 2008. Pertama, saya ingin bebas dari pekerjaan “kantor” dan ingin lebih freedom mengelola usaha sendiri. Maka Januari 2008 lalu, walau harus kehilangan gaji yang cukup lumayan sebagai direksi sebuah perseroan, saya beranikan diri untuk mundur. Satu dua bulan memang langsung terasa dampaknya, saya jadi kesulitan likuiditas. Namun alhamdulillah, nggak terlalu lama, usaha saya berjalan lancar dan saya benar-benar bisa freedom.

Kedua, saya ingin lebih banyak membantu keluarga dekat saya yang hidupnya kurang beruntung. Yang saya pahami dari beberapa pesan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw adalah “dahulukan keluarga terdekat“.

Rasulullah saw bersabda, ‘Jika seseorang mempunyai beberapa biji kurma, atau beberapa kerat roti, atau beberapa keping dinar, dan berniat menginfaqkan, pertama-tama dia harus infaqkan kepada ayah dan ibunya, lalu dirinya, istri dan anak-anaknya kemudian keluarganya dan saudara-saudaranya yang mukmin, dan terakhir barulah amal-amal kebaikan dan amal-amal jariyah.’ Yang terakhir boleh dilakukan setelah memenuhi tiga yang pertama.

Ketika Nabi mendengar seorang Anshar wafat, meninggalkan anak-anak yang masih kecil, sedangkan hartanya yang tidak seberapa itu dia infaqkan di jalan Allah, beliau bersabda, ‘Kalau sebelum ini kalian beritahu aku, maka aku tidak akan memperkenankan dia dikebumikan di pekuburan orang-orang Muslim. Dia meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil, lalu ia buka tangannya untuk orang lain!!’

Nabi saw juga bersabda, ‘Utamakanlah infaq-infaq kalian mulai dari keluarga kalian menurut susunan yang terdekat. Mereka yang terdekat denganmu adalah mereka yang lebih berhak.’

Selama ini saya lebih banyak membantu orang jauh, sementara yang terdekat sama sekali terabaikan. Karena itu saya putuskan untuk fokus membantu mereka. Tahun ini saya fokus pada adik saya yang hidupnya sangat “merana”, tak tahu apa yang akan dikerjakan ketika ia memutuskan pulang kampung ke Padang. Padahal sebelumnya usaha dia di Bandung sudah lumayan. Namun keputusannya mencoba buka bisnis di kampung ternyata gagal. Sudah 2 tahun hidupnya tambah menyedihkan. Kepercayaan dirinya turun drastis, kreativitasnya hilang, semangatnya mati. Istri saya yang kemudian mengingatkan saya untuk segera turun tangan.

Awal Januari 2008 lalu, saya dirikan satu perusahaan baru khusus untuk dia. Sekitar 2 bulan saya terus membinanya, mengembalikan kepercayaan dirinya dan membangkitkan kembali semangat juangnya. Alhamdulillah, sepanjang tahun 2008 lalu, saya perhatikan perubahan drastis terjadi dalam hidupnya. Semangatnya luar biasa, pencapaian prestasinya pun sangat membanggakan saya.

Yang ketiga, saya ingin mewujudkan impian istri saya. Dia sangat ingin tinggal di kawasan yang jauh dari hiruk pikuk kota. Dia ingin punya rumah dengan view yang indah. Sejak lama ia bercita-cita memiliki kebun tanaman obat di samping rumah, yang sekaligus jadi laboratorium belajar bagi anak-anak kami.

Awal tahun 2008, saya menuliskan target ini harus tercapai sebelum pergantian tahun. Bahkan saya juga berani menuliskan dalam daftar goal saya, rumah impian istri saya ini saya beli cash, tidak ngutang. Saat menuliskan goal ini saya sendiri tidak tahu apakah akan bisa tercapai atau tidak, sumbernya dari mana, dsb. Namun saya termasuk orang yang sangat percaya dengan kekuatan “tuliskan goal anda”. Ya, saya tulis saja. Lalu saya membaca cukup sering. Sehingga saya selalu ingat goal ini. Media yang paling sering saya gunakan adalah welcome message handphone saya.

Apa yang terjadi? Alhamdulillah, sejak 20 Desember lalu, kami sudah pindah ke rumah impian itu. Letaknya memang jauh dari kota Bandung. View nya indah sekali, ada sebidang tanah cukup untuk kebun, dan ruang eksplorasi anak-anak saya semakin luas.

Namun sayangnya ada 4 goal di tahun 2008 ini ternyata tidak berhasil saya wujudkan. Saya coba mengevaluasinya secara jernih. Kesimpulan saya, bukan goal nya yang salah. Bukan goal nya yang ketinggian. Bukan goal nya yang tidak masuk akal. Saya nggak usah sebutkan lah ya, apa saja goal-goal tsb.

Yang menarik, saya telah menemukan penyebab mengapa ke 4 goal tsb tidak berhasil saya capai. Saya harus akui, memang pantas, gagal.

Apakah itu?

Kebiasaan saya tidak berubah! Ya, itulah penyebabnya.

Untuk 3 goal pertama, karena begitu penting bagi saya, maka saya betul-betul berusaha keras untuk mewujudkannya.

Alhasil, perilaku saya berubah. Perilaku itu semakin sering saya lakukan. Akibatnya kebiasaan saya berubah. Cara saya mewujudkannya berubah. Metoda saya berubah. Kreativitas saya bangkit, dan langkah-langkah ooperasional saya pun berubah.

Sedangkan 4 goal yang gagal itu, memang agak berkurang passion saya setelah berjalan beberapa bulan. Keinginan saya untuk menggapainya melemah. Akibatnya perilaku saya tetap. Apa yang seharusnya saya lakukan, tidak saya kerjakan. Apa yang sepatutnya saya hindari, kurang saya pedulikan. Rutinitas saya tetap. Kebiasaan saya terhadap 4 goal itu tetap. Jadinya ya, hasilnya juga tetap. Yaitu sama persis dengan sebelumnya. Tak ada perubahan. Dengan istilah lain, tak ada hasil!

Pelajaran penting yang saya rekam:
1. selalulah “beri makan” impian-impian kita, sehingga tampak semakin penting bagi kita.
2. lakukan dengan cara yang berbeda, perilaku yang beda, sehingga menghasilkan kebiasaan baru yang berbeda.

Modal ini akan saya coba praktekkan lagi di tahun 2009. Kini saya sudah tuliskan impian dan goal-goal saya untuk tahun 2009 ini. Termasuk hal-hal beda yang harus saya lakukan!

Apakah anda sudah?

Belajar tentang Awan di Halaman

  • December 27, 2008

oleh: Maya

Hari ini, 27 Desember 2008, pagi menjelang siang cuaca begitu cerah. Langit pun terlihat begitu biru. Di halaman samping rumah baru kami yang masih lapang ditumbuhi rumput ilalang, anak-anak asyik bermain rumah-rumahan. Bertiangkan beberapa potongan bambu yang diatapi potongan kayu tripleks bekas, Azkia (6) dan Luqman (4) mengamati awan yang tampak jelas bergerak di angkasa.

Memang luar biasa kawasan rumah tinggal kami sekarang ini. Banyak yang bisa kami eksplorasi dan amati, banyak bahan pelajaran faktual yang dihadiahkan alam ciptaan Tuhan ini untuk kami. Ada jangkrik gemuk-gemuk keluar dari liang karena tanahnya tergali, ada bekicot yang menempel di antara ilalang, ada capung dan kupu yang liar beterbangan, ada banyak putri malu yang bisa disentuh kapan saja untuk melihat mereka malu-malu menutup daunnya, dan yang paling menakjubkan pada hari ini adalah ketika Azkia berlari mengambil buku dari kamar untuk mencocokkan bentuk awan yang dilihatnya dengan informasi yang pernah ia baca.

Luqman seperti biasa menguntit kakaknya, yang rajin memberi info terbaru. Dan saya tahu ia juga belajar ketika kakaknya berteriak takjub, “Mama, tadi kakak lihat awan kumulus dan altostratus!”.

Aduh, karena saya sibuk mengawasi para pekerja yang sedang membangun dapur, tak sempat saya ikut mengamati awan apalagi memotretnya. Tapi jauh di dalam hati, saya bersyukur dan juga takjub dengan spirit belajar putera-puteri saya yang tak surut karena kepindahan kami ke wilayah pinggiran seperti Tanjungsari ini. Bahkan awan yang gratis bisa kita lihat di atas sana pun membuat mereka tak kehilangan momentum belajar. Puji syukur hanya kepada Allah Yang Mahapemurah. Semoga kepindahan kami ke tempat baru ini memberi berkah. Amin.

MANUSIA: SEBUAH FENOMENA KIMIAWI

  • December 3, 2008

oleh: Maya A. Pujiati

Manusia dengan tepat disebut ‘alamush- shaghir atau jagad kecil di dalam dirinya. Struktur jasadnya perlu dipelajari, bukan hanya oleh orang-orang yang ingin menjadi dokter, tetapi juga oleh orang-orang yang ingin mencapai pengetahuan tentang Tuhan.

Dengan merenungkan wujud dan sifat-sifatnya, manusia bisa sampai pada sebagian pengetahuan tentang Tuhan. Seandainya beberapa detik saja manusia mau memperhatikan bagian-bagian tubuhnya yang sungguh sangat unik, semuanya akan membawa manusia pada suatu perenungan yang hebat. Mata dengan komposisi dan teksturnya yang artistik, hidung yang terbentuk sedemikian rupa, jari-jemari tangan yang bisa dilipat dan ditekuk, serta rambut yang bisa rontok dan kemudian tumbuh lagi, dst, dst.

Jika manusia dengan sombong mengklaim dirinya mampu membuat atau menciptakan apa saja, lantas ia harus membuktikannya dengan menciptakan salah satu dari anggota tubuhnya itu, niscaya untuk sebelah mata yang terpejam pun ia tidak akan mampu membuatnya.

Tetapi mengapa, banyak orang yang telah merenungkan dirinya tidak juga dapat menemui Tuhan, bahkan lari menjauh dari keinginannya mencari Tuhan. Itu berarti bahwa memang ada cara-cara tersendiri untuk melakukan itu.

Ada orang yang gagal menemukan Allah lewat pengamatan, lantas menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada dan bahwa dunia yang penuh keajaiban ini menciptakan dirinya sendiri. Mereka bagaikan seseorang yang melihat suatu huruf yang tertulis dengan indah kemudian menduga bahwa tulisan itu tertulis dengan sendirinya tanpa ada penulisnya.

Ada pula sebagian orang yang menolak kehidupan akhirat, tempat manusia akan diminta pertanggungjawabannya dan diberi balasan atas segala amal perbuatannya dengan pahala atau siksa. Dengan pendapat itu mereka telah menganggap diri mereka sendiri tidak ada bedanya dengan hewan dan sayur-sayuran yang akan musnah.

Sementara yang lainnya adalah mereka yang percaya kepada Allah dan hari akhirat, tetapi hanya dengan iman yang masih lemah.

Dunia tempat manusia hidup adalah ibarat sebuah panggung atau pasar yang disinggahi oleh para musafir di tengah perjalanannya ke tempat lain. Di sinilah mereka membekali diri dengan berbagai perbekalan untuk perjalanan itu.

Sementara itu, untuk membekali dirinya di dunia ini, sebenarnya manusia hanya membutuhkan dua hal: (1) perlindungan dan pemeliharaan jiwanya; dan (2) perawatan dan pemeliharaan jasadnya.

Pemeliharaan yang tepat atas jiwa kita adalah melalui pengetahuan (arafat), melalui kesadaran (ma’syar) dan cinta (mina) akan Tuhan. Dan jika manusia terserap ke dalam kecintaan akan segala sesuatu selain Allah, itu berarti keruntuhan jiwa. Inilah makna simbolis yang kita laksanakan saat kita haji.

Kecintaan kepada Allah adalah sesuatu yang memang sulit dicapai. Akan tetapi, bagaimanapun kecintaan kepada Allah adalah sebuah kewajiban.

Penyempurnaan kemanusiaan justru terletak di sini, yaitu bahwa kecintaan kepada Allah mesti menaklukkan hati kita dan terkuasai sepenuhnya. Kalaupun kecintaan kepada Allah tidak bisa sepenuhnya, maka hal itu minimal mesti merupakan perasaan yang paling besar di dalam hati kita, yang bisa mengatasi kecintaan kepada yang lain selain Allah.

Do’a Rasulullah berkenaan dengan cinta kepada Allah:Continue reading

Waspadai bisikan al-khannas

Awalnya saya takut punya impian. Saya pikir, “Ah mana mungkin? Zaman serba susah sekarang ini mau punya impian apa lagi? Bisa hidup aja udah syukur! Udah lah ngga usah ngoyo!

Kok jadi takut dengan kata-kata seperti itu ya? Tapi saya pikir itu banyak terjadi. Saya sendiri pernah begitu. Suatu saat saya baca sebuah buku yang mengupas tentang Al-Khannas, yang sering membisiki manusia. Al-Qur’an juga menasehati kita untuk waspada dengan al-khannas ini (surat An-Nas). Saya lupa judul bukunya. Udah lama sih …

Digambarkan di buku itu, betapa banyak sekali kehidupan kita ini dipengaruhi al-khannas, yang umumnya berciri “ajakan negatif dan menghalangi perbuatan positif”. Dalam shalat aja, kita sering dibuat ragu-ragu udah berapa rakaat kita shalat, dsb.

Karena itu kalau ada bisikan negatif , waspadalah, jangan-jangan al-khannas berusaha mempengaruhi kita. Termasuk ketakutan kita untuk punya impian. Akan banyak sekali alasan-benar-dan-logis yang akan disodorkan al-khannas untuk membuktikan bahwa kita tak layak untuk punya impian.

Kini, saya tak mau dengar lagi bisikan al-khannas itu, untuk berbagai keadaan saya setiap hari. Sikap ragu, terlalu khawatir, tak berani ambil keputusan, adalah efek-efek yang ditimbulkannya. Cara mengatasinya, mudah sekali ternyata. Ambil keputusan, dan fatawakkal ‘alaAllah (tawakkal).

Contoh lain, ketika akan menelpon seorang calon klien, biasanya datang pikiran-pikiran negatif. “Ah kayaknya dia pasti nggak mau. Pasti dia marah ditelpon jam segini, dsb” Tiba-tiba saja al-khannas menyodorkan berbagai skenario negatif di benak kita. Macam-macam bentuknya. Lalu kita jadi takut, ragu dan nggak berdaya. Intinya ga jadi nelpon.

Obatnya … ambil telpon, tekan saja, lalu sambil berdiri, katakan “Hello”. Pasti aman kok.

So, kalau ada yang kita takuti, “LAKUKAN SAJA APA YANG KITA TAKUTKAN ITU”. Saya terus mencobanya, dan akan terus mencobanya. Termasuk bermimpi. Tuliskan saja! Kalau belum sampai 100 item, berarti anda masih takut … Jangan bertanya apakah itu mungkin tercapai atau tidak, tuliskan saja.

Explore impian-impian anda … jangan-jangan sudah banyak yang terkubur, tanpa sengaja. Bangkitkan, keluarkan, hidupkan, beri “makan”. Lalu lihatlah hasilnya …

Latihan bersikap positif

  • November 20, 2008

Suatu hari saya bilang pada istri saya, yuk kita latihan “always positive”, selalu bersikap positif. Syaratnya harus kita lakukan selama 3 bulan. Kalau ada satu hari aja kita gagal, kita ulang lagi, hitung dari awal.

Wah! Luar biasa sulitnya. Soalnya kami harus senantiasa menjaga hati, lisan dan sikap kami seratus persen untuk tidak pernah “negatif” atas apapun yang terlihat, terlintas, terasa … apalagi perbuatan yang sifatnya negatif.

Apapun yang terjadi, saya tidak boleh marah, tidak boleh mengeluh, tidak boleh ngasi komentar yang negatif, ataupun sekedar gurauan negatif. Saya kudu musti jaga benar nih lidah jangan sampai “keceplosan”. Wah ini memang lumayan berat untuk orang tipe koleris sanguinis kayak saya.

Namun kami harus bisa! Alhamdulillah ada satu manfaat nyata yang langsung kurasa. Kami jadi berusaha saling memuji, saling mengedifikasi, saling menjaga diri. Kami jadi lebih sering tersenyum, lebih peka atas berbagai kemungkinan, dan satu hal yang paling penting … tanpa terasa, kami jadi lebih positif!

Walau selalu saja kami gagal, sehingga akibatnya kami terus aja start lagi dari awal, namun tanpa kami sadari, kami jadi jauh lebih positif. Saya kira itu yang lebih penting, ya ‘kan?

Sosialisasi juga ternyata berdampak pada perkembangan anak-anak

Salah satu masalah yang paling banyak dikhawatirkan orang tua kalau anaknya homeschooling adalah persoalan sosialisasi. Kesannya, anak-anak homeschooling itu nggak gaul, nggak punya teman, terpenjara di rumah dan tak mampu berorganisasi, setelah mereka besar nanti.Terus terang, masalah ini memang sudah lama jadi perhatian saya dan istri saya. Kami memang berniat dua anak kami, Azkia (6 th) dan Luqman (4 th), nantinya akan menempuh jalur homeschooling. Kami “memilih” (secara sengaja dan sadar) mereka berdua, insyaAllah, nggak akan sekolah seperti biasa di sekolah formal. Paling tidak, sampai tingkat SMU.

Apakah pilihan ini tidak beresiko bagi kedua anak kami? Saya dan istri sering mendiskusikan berbagai resiko paling jelek yang akan mereka hadapi. Ya, soal profesi dan masa depan mereka nanti. Soal legalitas dan ijazah. Soal nasib mereka kalau ternyata kami nggak berhasil, dlsb. Termasuk juga tentu saja soal sosialisasi dan dampak pergaulan mereka diantara teman-temannya. Bisa jadi ‘kan mereka dipandang “rendah” karena kesannya “mereka nggak sekolah”.

Tapi, ini jangan diartikan bahwa kami anti-sekolah. Kami sadar betul sekolah sangat penting.  Namun kami juga sadar bahwa sekolah bukanlah satu-satunya jalan terbaik yang harus mereka tempuh. Diantara 4 orang anak saya, 2 diantaranya sekolah kok, yang satu (Nadya) sekarang kelas 2 SMP dan adiknya (Citra) kelas 5 SD. Keduanya bahkan termasuk unggul (10 besar) di kelas mereka. Citra selalu juara pertama sejak kelas 1 sampai sekarang, bahkan ia juga juara untuk berbagai perlombaan non-akademis (seni, olahraga, dan ketrampilan lainnya). Saya pribadi bercita-cita mereka sekolah sampai S3.

Lalu mengapa kami memilih homeschooling? Untuk Azkia (6 th), kami merasa ia lebih nyaman sekolah dengan cara homeschooling. Mungkin karena ia terbentuk sejak kecil sudah terbiasa belajar di rumah. Sejak usia 3 th, ia sudah senang belajar. Kesukaannya pada belajar membuat kami khawatir, ia tak akan “terlayani” oleh sistem sekolah.

Pengetahuannya tentang alam, matematika, bahasa, dan kemampuan logika nya berkembang “terlalu cepat” menurut saya. Bahkan “mengalahkan” kakak-kakaknya yang SD atau mungkin yang SMP. Ia melahap buku-buku berbahasa asing hampir setiap hari, belum lagi buku-buku ensiklopedia dan matematika sekolah. Ia belajar sendiri. Bahkan kami tak pernah menyuruh atau mendampinginya lagi. Ia telah jadi “mesin belajar” yang betul-betul mandiri.

Untuk Azkia, dengan keadaaanya begitu, bagaimana kami harus menyekolahkannya? Ketika kami tanya, apakah ia mau sekolah, dengan mantap dan yakin, ia menjawab “Tidak!” Apakah kami harus memaksanya? Apakah pilihannya itu salah?

Menurut kami, kecintaannya pada ilmu dan kesukaannya untuk belajar, merupakan harta yang paling berharga. Kami harus bisa menjaganya. Yang jadi masalah bagi kami hanyalah bagaimana agar kelak di kemudian hari, jika ia berminat untuk jadi ilmuwan misalnya, dan harus sekolah ke perguruan tinggi, ia bisa diterima. Setelah kami pelajari secara mendalam, tampaknya masalah ini sudah bisa kami atasi.

Masalah Sosialiasi

Dalam pandangan saya, kalau orang tua takut memilih homeschooling bagi anak-anaknya, hanya karena alasan sosialisasi itu terlalu berlebihan. Kemampuan ini selalu bisa dibangun dan dikembangkan bahkan by desain. Kecerdasan interpersonal anak memang harus selalu kita kembangkan. Akan tetapi bukan asal-asalan, atau membiarkannya begitu saja dengan asumsi “mereka bisa dan berkembang dengan sendirinya”. Tidak!

Anak-anak homeschooling biasanya juga punya komunitas terbatas. Setiap minggu atau setiap bulan mereka ngumpul “belajar bersama”. Dalam acara itu mereka bisa “belajar” secara khusus bagaimana bekerjasama, memimpin, berkomunikasi, bersikap sopan, santun dalam berbahasa, dlsb. By desain. Dan dengan sengaja.

Selain itu anak-anak juga bisa les atau ikut kursus-kursus keterampilan sesuai minat dan bakat mereka. Les musik misalnya, atau les belajar membaca atau les bahasa Inggris misalnya. Disana mereka juga akan melihat berbagai karakter orang lain dan jangan lupa ajarkan mereka bagaimana menghadapinya.

Sosialisasi sangat berdampak pada perkembangan anak-anak kita. Pengaruh yang paling terlihat adalah bahasa dan sikap. Saat anak-anak bergaul dengan teman-teman yang biasa berkata baik, bahasa mereka biasanya terbentuk menjadi baik. Namun bersiaplah saat anak-anak bergaul dengan teman yang biasa berkata kotor dan kasar, mereka pun berpotensi untuk terbiasa berkata-kata yang sama.

Karena itu, memilihkan lingkungan sosial yang sehat adalah tugas berat bagi orang tua masa kini. Karakter dan bahasa negatif tersebar terlalu merata. Televisi, keluarga besar, tetangga, kampung, dan bahkan sekolah pun tak dijamin bebas dari bahasa-bahasa negatif.

Saya kira, pendidikan interpersonal dan pengembangan sikap/attitude ini merupakan kewajiban utama orang tua. Yang penting, kita perlu terus mengetahui apa yang terjadi dan terus mendampingi anak-anak selama masa belajar mereka sampai usia baligh. Tidak hanya berlaku untuk anak-anak yang homeschooling. Bahkan juga anak-anak kita yang sekolah formal. Jangan percayakan soal ini 100% kepada sekolah. Ini tugas kita, orang tua!

Homeschooling: Pendidikan Berbasis Keluarga

Siapapun yang tertarik dengan tema-tema seputar homeschooling (HS), informasi ini mungkin cukup bermanfaat.

HS sudah mulai hangat dan bahkan kini agak “panas” dibicarakan di ruang publik. Selain karena terbitnya buku-buku HS karya penulis lokal yang promonya cukup gencar, atau mungkin juga karena HS ternyata sudah mampu menarik perhatian dan menyulut respon subjektif anggota dewan dan pakar pendidikan.

HS memang unik, tapi bukan berarti aneh. Pendidikan anak yang dipayungi oleh institusi keluarga adalah fondasi pendidikan yang paling sempurna. Kemunculan istilah HS yang berasal dari barat hanyalah sebuah istilah yang memudahkan penyebutan. Namun pada faktanya, pendidikan keluarga yang dimotori oleh orang tua sudah hidup berabad-abad lamanya, bahkan mungkin sejak zaman Nabi Adam a.s.

Kita tentu belum lupa bahwa para Nabi adalah para pendidik utama anak-anaknya dan memiliki pendidik yang terbaik semasa kecilnya. Tanggung jawab pendidikan itu mereka aktualisasikan lewat fase-fase kehidupan bersama anak-anak yang alami namun penuh dengan visi.

Nabi Ibrahim a.s mendidik langsung putranya Ismail dengan ajaran Allah lewat peristiwa-peristiwa nyata kehidupan. Bahkan sejak awal Ismail sudah dilibatkan dalam pendirian Baitullah (‘Rumah’ Allah) di Makkah dan dilatih sikap pengorbanannya lewat peristiwa penyembelihan. Semua itu memang bukanlah kebetulan, melainkan gabungan antara ketaatan dan usaha seorang manusia dan bimbingan Sang Khalik.

Begitu pula dengan Nabi Musa a.s, Nabi Isa a.s, beliau semua tumbuh terdidik dengan hadirnya orang-orang yang sangat peduli dengan pendidikan mereka. Nabi Musa a.s memiliki Aisiyah dan Bunda kandungnya sebagai pengasuh dan juga pengarah, meski beliau hidup dalam lingkungan Firaun yang zhalim. Adapun Nabi Isa a.s memiliki Maryam sebagai pengasuh dan pendidik yang disucikan Allah.

Demikian halnya dengan Nabi Muhammad saw terhadap putrinya Fathimah Az Zahra dan sepupunya Ali bin Abi Thalib, pendidikan untuk mereka telah dilakukan sejak kecil dengan tempaan-tempaan hidup yang keras, yang akhirnya mengokohkan iman serta akhlak dan pribadi mereka. Hal itulah yang akhirnya menjadi harta berharga yang mampu memelihara kualitas keturunan Nabi setelah Nabi tiada.

Bagaimana dengan kita? Anak-anak pada zaman ini sesungguhnya tengah dikelilingi oleh srigala-srigala lapar yang sedang mengumpulkan teman. Kapitalisme menjelma dalam berbagai wujud, termasuk dalam dunia pendidikan. Kini, anak-anak lebih membutuhkan fondasi pendidikan dari keluarganya jauh lebih besar daripada anak-anak zaman dulu. Karena tanpa fondasi yang kuat, mereka akan lebih mudah terbawa arus.

Mencermati gaya hidup anak-anak dan remaja saat ini, terasa hati miris dan juga khawatir. Media yang menjajakan produk dan nilai-nilai liberalisme moral bertebaran di mana-mana hingga ruang untuk mengingatkan manusia akan tujuan hidup dan hakikat kematian nyaris tak tersisa. Dan ironisnya, media-media itu justru dilegalkan oleh pemerintah.

Beberapa pihak sering menafikan bahwa media tidaklah berpengaruh besar terhadap perilaku anak-anak. Namun benarkah demikian? Fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Media ternyata telah menjadi rujukan anak-anak untuk menciptakan citra atas dirinya. Pakaian mereka, cara mereka berbicara, cara mereka bergaul, cara mereka belajar, dan cara mereka bersikap, nyaris semuanya adalah hasil copy-paste dari idola mereka yang dipublikasikan besar-besaran oleh media.

Lalu, siapa yang bisa bertanggung jawab jika sebagian besar anak dan remaja tumbuh tanpa jati diri dan akhlak yang terpuji. Saya pikir, media ataupun para idola itu tak akan mau bertanggung jawab atau bahkan tak pernah merasa bersalah. Ya, tentu saja tidak ada lagi yang bisa mengemban tanggung jawab besar terhadap pendidikan anak-anaknya kecuali ORANG TUA.

Pesan Al Quran surat At Tahrim (66) ayat 6 berbunyi, “Hai, orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakunya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Sehubungan dengan HS, sesungguhnya ada misi yang indah yang tersimpul dari homeschooling, home-education, home-learning, atau apapun namanya, yaitu mengembalikan basis pendidikan anak-anak yang selama beberapa waktu terakhir secara tidak sadar bertumpu pada lingkungan dan sekolah formal, kembali kepada keluarga.

Jangan simpulkan HS sebagai rival sekolah formal, karena spirit HS sesungguhnya telah hidup jauh sebelum sekolah formal ada. Kalau saja kata “sekolah” agak mengganggu persepsi kita yang sudah terlanjur melekat pada sekolah formal, maka saya lebih suka menyebutnya pendidikan rumah. Sebuah frasa yang menaungi wilayah yang lebih luas dari sekedar kegiatan belajar-mengajar atau tutorial.

Saya percaya, bahwa sekolah formal saja tak akan sanggup memberikan kebutuhan pendidikan anak-anak kita tanpa pendidikan yang komprehensif di dalam keluarga. Satu hal yang paling penting dalam hal ini adalah akhlak. Sekolah formal mungkin bisa melakukan transfer pengetahuan pada anak-anak, namun belum tentu mampu menghembuskan nilai-nilai moral dari setiap pengetahuan.

Misalnya saja ilmu tentang jenis-jenis kebutuhan dalam ilmu sosial: kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Apa yang diketahui anak-anak tentang hal itu selain hapalan tentang contoh-contohnya? Saya kira hanya guru yang memiliki visi yang mampu mengaitkan pengetahuan itu dengan konteks moral, misalnya bagaimana kebutuhan sekunder dan tersier seperti pakaian mewah atau mobil mewah bisa dikesampingkan jika kita masih melihat orang-orang yang kelaparan dan tak punya pakaian layak masih terlihat di sekitar kita.

Akhlak adalah produk pengetahuan. Pengetahuan yang baik dan ditransfer dengan cara serta visi yang baik lebih mungkin menghasilkan anak-anak yang berakhlak baik. Adapun pengetahuan yang baik, namun disampaikan dengan cara dan semangat yang kering dari para pengajarnya, hanya akan menjadi sebuah hapalan yang mungkin segera terlupakan setelah materi itu selesai diujikan dalam test.

Kita tentu tak bisa menuntut banyak dari guru dan sekolah formal untuk melakukan prombakan pembelajaran. Oleh karena itu, orang tualah ujung tombak dalam menancapkan nilai-nilai transenden sebuah pengetahuan yang tak terbilang banyaknya ini.

Mari kita usahakan, “Make a good family for the best country”.

Salam Pendidikan!

by : Maya A. Pujiati – DuniaParenting.com

Kekuatan Pikiran dalam Pengasuhan Anak

  • October 15, 2008

Masa kecil adalah masa pembentukan konsep-konsep diri, citra diri, dan kecenderungan-kecenderungan pada manusia. Diakui atau tidak, perbedaan karakter, kebiasaan, selera, dan terlebih persepsi-persepsi kita tentang kehidupan dipengaruhi oleh masa kecil kita.

Ajaibnya, semua itu dibentuk bukan lewat tutorial, melainkan diawali oleh pikiran dan persepsi orang tua atas anak-anaknya. Tak percaya?

Sebuah buku berjudul Mind Power for Children yang ditulis oleh John Kehoe dan Nancy Fischer menjelaskan tentang hal tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami. Buku setebal 201 halaman ini diterbitkan oleh penerbit Think Yogyakarta.

Persepsi kita terhadap anak-anak ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap cara kita memperlakukan mereka dan cara kita berbicara atau bersikap terhadap mereka, dan hal itu pun akan menular pada anak-anak tanpa kita sadari.

Bayangkan ketika kita sedang merasa kesal pada anak-anak saat mereka membuat gaduh. Wajah kita berubah kusut, suara kita menjadi sedikit tegang, dan mungkin meledak jika tak sempat terkontrol. Lalu apa yang mungkin dipikirkan anak-anak tentang kita dengan sikap tersebut? Yakinlah mereka pun akan merasakan ketidaknyamanan itu secara otomatis.

Pada bagian awal buku ini dikatakan, “Pikiran adalah kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut.”

Kekuatan Kata-Kata
Ketika kita sekolah dulu, mungkin pernah mendengar istilah diksi (pilihan kata). Ternyata, hal itu sangat penting diperhatikan dalam mengarahkan pikiran kita dan anak-anak.

Kata-kata adalah lukisan verbal dari pikiran dan perasaan. Kesan yang ditangkap anak-anak dari kata-kata yang kita ucapkan akan diolah sedemikian rupa oleh otak mereka.

Satu hal yang menarik, anak-anak ternyata akan lebih fokus pada kata terakhir yang mereka dengar daripada uraian kata di awal kalimat, betapapun penting dan panjangnya kata-kata pada awal kalimat tersebut.

Beberapa waktu lalu kami sekeluarga pergi mengunjungi kerabat di Jakarta. Di dalam bis kami lihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih berusia kurang lebih satu tahun. Anak itu nampak manis dalam gendongan ibunya, sampai kemudian sang ibu berkata pada anaknya, “Ade, jangan rewel ya, jangan nangis!” Ajaibnya, tak lama kemudian anak itu malah merengek-rengek dan bahkan menangis keras tanpa alasan yang jelas.

Saya dan suami senyum-senyum. Ya, teori tentang efek kata terakhir pada anak ternyata benar-benar terbukti. Kalimat yang diucapkan si ibu adalah kalimat negatif, “Jangan rewel!” namun kesan paling dalam yang didengar anak ternyata terletak pada kata terakhir yaitu ‘rewel”.

Lawan dari kalimat negatif adalah kalimat positif. Mempergunakan kalimat positif akan mengarahkan pikiran kita pada apa yang kita inginkan, sedangkan kalimat negatif mengarahkan pikiran pada apa yang tidak kita inginkan.

Misalnya kalimat, “Saya tak mau gagal lagi.” Itu adalah kalimat negatif yang lebih mungkin dipersepsi pikiran kita menjadi “gagal lagi”. Namun sesungguhnya kalimat itu bisa berubah postif jika pilihan kata yang kita gunakan adalah, “Kali ini saya akan berhasil”.

Mengajarkan Pikiran Positif pada Anak
Melatih anak untuk berpikir positif juga diawali dengan melatih mereka untuk mempergunakan kalimat positif dan menghindari kalimat negatif.

Bagaimana menjelaskan tentang perbedaan pikiran negatif dan positif pada anak-anak menurut penulis buku ini adalah dengan membuat perumpamaan. Pikiran itu ibarat taman. Pikiran positif itu adalah bunga yang membuat kita senang ketika melihatnya, sedangkan pikiran negatif adalah rumput liar yang membuat bunga terlihat kacau dan kita yang melihatnya merasa terganggu. Supaya bunga tumbuh dengan baik, maka sesering mungkin kita harus menyingkirkan rumput liar yang ada di sekelilingnya.

Kekuatan Afirmasi
Beragam hal dalam kehidupan anak-anak terkait pertemanan, persepsi diri, kemampuan-kemampuan intelektual, ataupun optimisme pribadi erat hubungannya dengan bagaimana mereka memikirkan itu semua.

Afirmasi adalah cara paling mudah untuk mengarahkan pikiran dan bahkan keadaan yang negatif menjadi positif. Sebuah penggalan cerita berikut akan menjelaskan hal itu:

Ketika Charles, anak laki-lakiku sakit, ia pergi ke dokter karena kutil yang sangat sakit, berakar di dalam kakinya. Dia dijadwalkan akan diobati dengan mencabut kutil itu seminggu kemudian. Tetapi ketika hari itu tiba, Charles mengatakan kepadaku bahwa kutil itu hampir hilang. Ketika mengeceknya. aku melihat memang benar demikian dan meminta dokter agar membatalkan janjinya. Ketika aku bertanya kepada Charles apa yang telah dia lakukan, dia mengatakan kepadaku bahwa setiap pagi dia melihat kakinya dan berkata, “kakiku bertambah baik dan baik setiap hari.” Dia telah menggunakan teknik afirmasi untuk menyembuhkan penyakitnya.

Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Namun tak ada salahnya kan menyimak buku ini, untuk menyumbangkan suplemen positif bagi pikiran kita.

by : Maya A. Pujiati – DuniaParenting.com

Maksimalkan Pendidikan Alternatif

Sudah terlanjur masyarakat menganggap, bahwa pendidikan itu mesti dilakukan di sebuah lembaga formal, seperti halnya sekolah. Sementara itu, serangkaian persoalan klise berkaitan dengan sekolah, seperti gedung yang ambruk, kelas yang rusak, SPP yang mahal, DSP yang membengkak, gurunya kurang, dan banyak persoalan lainnya, sampai saat ini masih sulit untuk dituntaskan. Mayoritas berujung pada persoalan, sementara di sisi lain sektor pendidikan disinyalir merupakan tempat yang rawan penyelewengan dana.

Memang ironis dan menyedihkan. Jika pendidikan bertujuan untuk meninggikan kualitas manusia, sehingga tercipta masyarakat yang positif, produktif, dan bertakwa, maka dunia pendidikan di negeri kita nampaknya jauh meninggalkan tujuan itu. Imam Ghazali dalam bukunya Ayyuhal Walad, menetapkan makna pendidikan (tarbiyah) itu, bagaikan seorang petani yang tengah mencabut duri dan membuang tanaman asing yang mengganggu di antara tumbuhan yang ia tanam, agar tanaman tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kapitalisme secara berangsur-angsur memang telah berhasil membumbui hampir semua sisi kehidupan dengan tujuan-tujuan materil, tak terkecuali bidang pendidikan. Sementara itu, berbicara penyelesaian masalah pendidikan yang kompleks, kunci satu-satunya justru adalah kepedulian; dan itu jelas berseberangan dengan prinsip-prinsip kapitalisme.

Menggalang Kepedulian
Sejak subsidi pendidikan dikurangi, efek yang langsung terasa oleh masyarakat, adalah mahalnya biaya sekolah. Terlebih dengan kebijakan otonomi sekolah, maka sekolah tak jauh beda dengan perusahaan. Tidak bisa tidak sekolah harus bisa mencari dana sendiri untuk memenuhi kebutuhannya dan jika dimungkinkan tentu bisa meraih keuntungan yang besar sebagaimana layaknya perusahaan.

Hal itu terjadi bahkan sejak level prasekolah, di mana sekarang berjamur Taman Kanak-Kanak dan Play Group yang biayanya mahal bukan kepalang. Kisaran minimal 2 juta hingga mencapai lima atau 6 juta hanya untuk uang pangkalnya saja. Belum lagi SPP dan uang seragam.

Lantas apa yang akan pertama kali dipelajari oleh anak-anak bahkan di usia yang sangat dini? Yakinlah bukan kualitas kurikulumnya, melainkan perasaan ekslusif karena mereka belajar di sekolah yang mahal, fasilitasnya lengkap, dan gedungnya megah. Jadi tidaklah salah bukan, jika kita katakan, bahwa dengan format sekolah seperti yang ada hari ini, anak-anak sudah menampung benih kapitalisme.

Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak yang orang tuanya tak punya uang untuk membayar biaya sekolah semahal itu? Bagaimana pula nasib sekolah yang murid-muridnya dari kalangan kelas akar rumput, yang gedungnya pun tinggal puing-puing? Kesenjangan itu hanya akan semakin menganga lebar andai kita tak menggalang kepedulian.

Kalau pengadaan dana untuk rehabilitasi ratusan bahkan mungkin ribuan gedung sekolah negeri memberatkan pemerintah, sehingga tidak semua sekolah bisa tersentuh dana rehabilitasi, maka sebenarnya pemerintah bisa menggandeng tangan-tangan masyarakat yang masih peduli akan pendidikan. Salah satu contoh yang mungkin patut dipertimbangkan adalah gagasan yang dipaparkan di Tajuk Rencana PR (Jumat, 5/5) tentang program Cinta Almamater. Para alumni setiap sekolah bisa bergotong royong menyumbang ke sekolahnya masing-masing untuk membangun kembali gedung yang roboh, dengan catatan penggunaan dananya diawasi.

Selain berupa dana, masyarakat pun bisa berpartisipasi, seperti yang dicontohkan para sarjana di Ciamis yang membuka sekolah terbuka untuk anak-anak petani.

Adapun kepedulian pemerintah yang diharapkan dalam hal ini, adalah menaungi kegiatan pendidikan alternatif itu dengan pengakuan terhadap legalitas lulusannya, sehingga mereka juga punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formalnya ke jenjang yang lebih tinggi.

Alternatif Pengganti Gedung
Faktor penunjang mahalnya biaya sekolah biasanya dinisbatkan kepada biaya gedung. Setiap siswa baru pasti terkena beban untuk membayar uang bangunan, yang jumlahnya bisa jadi cukup besar. Jika pemerintah mendukung lahirnya sekolah-sekolah alternatif yang dikelola masyarakat, persoalan gedung sebenarnya bisa diminimalisir; dan secara otomatis pula, hal itu akan menekan angka DO (Drop Out) karena biaya sekolah bisa menjadi lebih murah.

Dengan kata lain, gedung bukanlah segalanya untuk mendidik anak. Bukankah sesungguhnya rumah, pantai hutan, taman bermain, dan seluruh permukaan bumi ini adalah sumber-sumber dan sekaligus tempat yang disediakan Tuhan untuk mendidik manusia? Oleh karena itu , terlepas dari persoalan politis, ‘tak punya gedung sekolah’ tidak bisa lagi dijadikan alasan untuk menghentikan kegiatan pendidikan atau melemahkan semangat para pendidik untuk membimbing.

Kehadiran Sekolah Alam telah membuktikan bahwa anak-anak bisa dan bahkan sangat antusias belajar di alam terbuka. Semangat mereka untuk pergi sekolah seolah tak terhentikan. Mereka selalu menemukan hal baru setiap hari. Karena begitu banyak rahasia di alam yang bisa dipelajari. Peran guru adalah membimbing untuk mengarahkan anak-anak didiknya agar mau melakukan penjelajahan dan pembelajaran terhadap seluruh media belajar yang tersedia di alam. Meskipun dari segi biaya tidak lebih murah dari sekolah konvensional, namun sebagai sebuah alternatif untuk memecahkan kekakuan format pendidikan, model sekolah semacam itu bisa dijadikan pilihan.

Sekolah alternatif untuk anak petani di Ciamis, yang pernah diberitakan di harian Pikiran Rakyat- Bandung, juga merupakan contoh , bahwa anak-anak tetap bisa antusias belajar meski mereka belajar tanpa seragam dan atribut-atribut formal lainnya.. Semangat mereka untuk belajar bisa jadi mengalahkan anak-anak sekolah di kota yang sepatunya berharga ratusan ribu, gedung sekolahnya megah, dan uang sekolahnya jutaan rupiah.

Sebenarnya sudah banyak sekolah-sekolah alternatif didirikan, dan tempat belajarnya bukanlah di dalam sebuah gedung sekolah, seperti umumnya kita temui. Ada orang yang membuat sekolah di kolong jembatan, gerbong kereta api, atau rumah-rumah penduduk. Di satu sisi hal itu mungkin tampak menyedihkan, karena sebenarnya banyak orang kaya yang kelebihan hartanya lebih banyak dipakai untuk berfoya-foya, dan tak tersalurkan untuk mereka yang kekurangan. Namun jika kita berpikir positif, maka keberadaan sekolah ‘darurat’ itu merupakan sumber inspirasi untuk membuat bentuk-bentuk kreatif tempat belajar, di saat kebutuhan menuntut demikian.

Bahkan jika konsep ini bisa diterima, maka murid-murid dari sekolah yang sudah berjalan pun, jika sekiranya gedung sekolah masih belum berfungsi, maka mereka bisa didistribusikan ke beberapa tempat belajar. Rasanya masih banyak juga, terutama di pedesaan, orang tua siswa yang bersedia menyiapkan halaman, teras, ataupun salah satu ruangan di rumahnya (kalau ada) untuk dijadikan tempat belajar sejumlah 5 atau bahkan 10 anak. Bagaimana dengan gurunya? Dengan semangat peduli, rasanya masih banyak juga sarjana pendidikan maupun non kependidikan yang mau menyumbangkan tenaga, pikiran, dan mendedikasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk anak-anak. Dan masyarakat yang memiliki kekuatan dana juga bisa “dipanggil” kepeduliannya untuk membayar upah para tenaga sukarela yang mau mengajar. Andai situasi itu bisa terjadi, alangkah indahnya!