Archive Monthly Archives: September 2008

Jin Ifrid Dalam Lampu Aladin Anda

  • September 29, 2008

Kalau Aladin membutuhkan sesuatu dia tinggal menggosok-gosok lampu wasiatnya. Lalu keluarlah Jin Ifrid yang siap diperintah tuannya, apapun juga.

Dalam diri kita ada satu sosok yang luar biasa hebatnya, yang bisa mewujudkan apa saja yang kita inginkan. Benar-benar ibarat jin ifrid yang ada di kisah Lampu Wasiat Aladin. Kalau kita “pandai” memanggil “jin” ini, kita bisa menyuruhnya melakukan apa saja yang kita mau. Bahkan termasuk hal-hal yang luar biasa, yang mustahil kita bisa.

Sosok luar biasa ini ada dalam diri kita. Dia menjaga kita sejak bayi sampai hari ini. Dia tak pernah tidur, selalu bekerja 24 jam non-stop. Dia bahkan menjaga kita saat kita sedang tidur. Dia belajar apapun yang kita ajarkan kepadanya, walau mungkin kita  tak pernah merasa mengajarnya. Setiap kita mempelajari sesuatu, rekamannya ia simpan utuh, detil dan mudah dipanggil kembali oleh otak kita.

Sayangnya sosok hebat ini tak bisa berfikir. Benar-benar mirip Jin. Apalagi berfikir kritis. Ia hanya bisa menelan 100% apapun yang kita katakan padanya. Programnya sangat automatis. Namun sosok ini sangat patuh atas apapun perintah yang diberikan. Ia bisa melakukannya bahkan saat kita tidur, atau saat kita tak butuh lagi.

Sosok hebat itu adalah “otak bawah sadar” kita. Saya sebenarnya kurang merasa tepat dengan istilah otak bawah sadar itu, namun memang terminologi yang tepat masih belum bisa ditemukan. Saya lebih merasakan bahwa sosok hebat itu adalah sebenarnya jati-diri-murni kita. Dia lah yang menyimpan seluruh data rekaman diri kita, sejak usia hari pertama kita lahir, sampai detik ini. Semua rekaman itu ada padanya. Pada diri kita.

Jadi bukan pada “otak fisik” kita. Sebab “otak fisik” kita ini, akan kembali jadi tanah saat kita meninggalkan dunia ini. Dimana ilmu yang kita miliki selama ini? Dimana rekaman amal yang kita perbuat selama ini? Apa yang kita bawa di alam akhir nanti?

Saya percaya, bahwa manusia bukanlah makhluk biologis semata, dengan jaringan materi fisik yang bisa kita lihat, kita bedah, atau kita isi dengan berbagai makanan.  Selain tubuh-materi ini, kita juga memiliki tubuh-non-materi. Kita sebut saja tubuh-ruhani.

Nah pada dasarnya tubuh-ruhani inilah diri kita yang sejati, yang nantinya “pulang” kembali kepada sang pemilik, Allah SWT. Tubuh ruhani inilah yang menyimpan semua data ilmu amal dan sikap kita, untuk kemudian kita pertanggungjawabkan di yaumil akhir nanti.

Tubuh ruhani inilah mungkin, menurut saya, apa yang disebut-sebut para ahli sebagai alam bawah sadar itu. Saya kira disebut demikian, karena para ahli belum bisa memecahkan kode rahasianya, hingga istilah itu memang lebih pas. Tubuh ruhani ini, tersusun tentu saja bukan dari unsur-unsur “dunia”, melainkan dari unsur-unsur “ukhrawi”, materi-materi yang bersifat ukhrawi, yang tentu saja kita tak kan bisa melihatnya.

Nah kembali ke otak bawah sadar tadi, sesungguhnya ini merupakan salah satu “alat” yang dimiliki oleh tubuh-ruhani (yaitu diri kita) untuk mengelola hidup kita. Dia  akan berhubungan dengan bagian diri kita lainnya, yaitu otak sadar kita, dan mungkin  dengan fungsi-fungsi tubuh lainnya.

Otak sadar, secara fisik dia memang ada di kepala kita sebagai “rumahnya”, namun secara “hakiki” dia juga ada di tubuh-ruhani kita. Otak ini sangat kritis, cerdas, cenderung memberi penilaian dan verifikasi, namun dialah “sang komandan”  yang bertugas memberi “perintah” kepada bawah sadar untuk melakukan sesuatu.  Secara simbolis, otak sadar ini adalah “aladin” nya sedangkan “otak bawah sadar” adalah Jin Ifrid-nya.

Otak sadar yang sangat kritis sering memberi penilaian negatif terhadap kemampuan diri kita, bahkan terhadap kemampuan bawah sadar kita. Otak sadar kita hanya memberi perintah-perintah yang “masuk akal” saja, yang logis, ada data historis sebelumnya. Jika kita selama ini sering gagal, maka perintah yang diberikan otak sadar kita adalah perintah-perintah defensif.

Karena bawah sadar tak bisa berfikir,  maka ia selalu membutuhkan “perintah”. Ia selalu berada dalam keadaan terprogram untuk “diperintah melakukan sesuatu”. Jika otak sadar tak memberikan perintah yang jelas, karena kekhawatiran yang tinggi misalnya, maka bawah sadar akan menganggap perintah itu adalah input-input dominan yang masuk ke dalam database-nya. Bila input kekhawatiran itu yang dominan, maka bawah sadar menganggap”apa yang dikhawatirkan itulah” perintah yang harus ia jalankan. Sebab itu akan terjadilah apa yang dikhawatirkan tsb. Persis bahkan.

Bila kita sering mengatakan secara berulang “nasibku buruk sekali”, maka jin ifrid (bawah sadar) itu akan menganggap kata-kata itulah perintah yang harus ia lakukan. Maka terjadilah seperti yang kita nubuatkan itu.

Sebab itu kita perlu berlatih terus mengendalikan diri kita, jiwa kita, tubuh ruhani kita. Berlatih untuk terus bersikap selalu berharap atas kemurahan Allah SWT, berlatih menahan (shaum) diri kita dari sikap-sikap yang tak terpuji, dlsb. Latihan-latihan itu akan sekaligus mengisi database bawah sadar kita dengan input-input baru, perintah-perintah baru, sehingga jadilah kita menjadi manusia baru.

Dengan berlatih menahan diri dan mengendalikan diri (shaum) misalnya dengan cara puasa, insyaAllah kita mampu menjadi manusia yang fitri, manusia yang kembali pada fitrah, suci. Sehingga jiwa, diri kita, tubuh ruhani kita digelari Allah SWT, sebagai hamba-hambanya yang bertaqwa. InsyaAllah.

Semoga kita menjadi bagian dari rombongan kafilah manusia  taqwa ini ya. Amin 🙂

Buang Kata “Tetapi”

  • September 23, 2008

Apakah anda sering mengalami hambatan dalam menemukan makna kehidupan? Anda tahu apa yang Anda inginkan, namun sayang ada pula rintangan yang menghambat.

Berikut ini ada latihan menarik yang diajarkan Daniel H. Pink dalam bukunya A Whole New Mind. Katanya, coba tuliskan apa saja perubahan-perubahan penting yang ingin Anda buat, dan tuliskan pula penghalangnya.

Misalnya:

Saya ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarga saya, tetapi saya banyak bepergian dalam pekerjaan saya.

Saya ingin lebih sering membaca, tetapi saya jarang punya waktu untuk bisa duduk dengan buku di tangan.

Kata Daniel: gantilah kata “tetapi” tersebut dengan “dan”.

contoh:

Saya akan lebih menghabiskan waktu dengan keluarga saya, dan saya banyak bepergian dalam pekerjaan saya. Maka, saya perlu menemukan cara-cara untuk membawa keluarga saya bersama selama perjalanan saya.

Saya akan banyak membaca, dan saya jarang sekali mempunyai waktu untuk bisa duduk dengan membaca buku di tangan. Maka saya perlu merekam buku-buku tsb sehingga saya dapat mendengarnya di dalam mobil atau di tempat olah raga.

Menukar kata “tetapi” menjadi “dan” intinya adalah memindahkan cara kita yang terbiasa dalam pola pembuatan alasan, masuk ke pola pemecahan masalah. Sederhana sekali ya 🙂

Blog nya Sudah Ter-Index Google, Belum?

Jika Anda punya website atau blog bagaimana mengetahui bahwa blog/web kita itu sudah di INDEX Google? Dan halaman apa saja yang sudah masuk index google?

Agar setiap halaman web/blog  kita bisa mendapatkan pengunjung gratis dari Google, kita harus memastikan bahwa SETIAP HALAMAN kita itu berhasil di INDEX dulu oleh Google. Artinya, masuk ke dalam database nya.

Cara mengetahuinya adalah:

–  buka mesin pencari Google anda sesuai NEGARA  tujuan pembaca/pasar/pengunjung anda. Jika target pasar anda Indonesia,  yang dibuka adalah http://google.co.id

– pada kolom isian tuliskan =>   site:http://namadomainanda

sebagai contoh, jika saya mau cek blog pustakanilna.com maka di kolom itu saya tulis:   site:http://pustakanilna.com

maka akan ditampilkan oleh Google halaman-halaman apa saja yang sudah ia index, dan juga jumlah halamannya.

Okey, sekarang silakan anda cek website atau blog anda ya. Kalau masih belum, gak apa, tunggu saja.

Ok. Semoga bermanfaat.

Sukseskah kita di mata anak-anak?

  • September 10, 2008

Udah lama sekali saya nggak nulis lagi disini. Mampir juga enggak. Belakangan ini saya betul-betul berada dalam “tekanan” pekerjaan yang sebenarnya saya bikin sendiri. He he

Syukurlah sekarang, tekanan itu sudah agak berlalu. Rasanya benar-benar “lega” banget.

Yang paling senang ya anak-anak.

Terkadang, saya merasa bersalah dengan anak-anak. Saya juga tahu, mereka protes ketika orang tuanya sibuk sehingga waktu dan perhatian jadi berkurang untuk mereka.

Biasanya ‘kan lalu kita berdalih, “Lha ini kan juga untuk mereka!” Tapi jika kita pertanyakan betul alasan ini, benarkah semua ini untuk mereka? Kalau mau jujur, saya merasa, enggak juga. Sebetulnya, semua kesibukan ini hanya untuk kita. Ego kita. Kesenangan kita.

Kita ingin sukses. Tapi sukses yang kita maksud, bukanlah sukses menurut “kaca mata anak-anak kita”. Kita ingin sukses di mata orang lain. Kita perlihatkan sukses itu di mata lawan-lawan kita. Sukses di mata rekan-rekan kita. Sukses di mata saudara-sekampung kita, di mata tetangga kita. Untuk meraihnya kita korbankan segala-galanya! Termasuk anak-anak kita…

Bagi anak-anak kita, mungkin kita bukanlah orang tua yang sukses!!!
Ach .. tampaknya saya harus mendesain ulang hidup saya!

Bagaimana kebiasaan itu terbentuk?

  • September 10, 2008

Seekor gajah dilatih dengan mengambilnya sejak ia masih sangat muda dan merantai salah satu kaki belakangnya pada sebuah patok besar yang ditancapkan di tanah. Secara naluri, ia ingin mencabut tiang tersebut. Tetapi karena tubuhnya masih kecil dan relatif lemah, ia tidak mampu melakukannya.

Setiap kali gajah kecil itu mencoba menarik patok itu dari tanah, sebuah sel saraf (atau sel otak) di kepalanya menyala dan terhubung dengan sel saraf yang lain, dan sebuah pikiran/kesimpulan dasar “aku tidak bisa” terbentuk -dalam hal ini, “aku tidak bisa menarik patok ini dari tanah!”

Ketika proses ini terjadi untuk pertama kalinya, “pikiran” tersebut hampir-hampir dipaksa untuk memicu terjadinya hubungan antar sel-sel otak.

Namun, ketika gajah itu mencoba mencabut pancang dari tanah untuk kedua kalinya, dan sel saraf itu menyala, lintasan samar-samar yang telah tercipta membuat hubungan antar sel menjadi lebih mudah.

Akibatnya, semakin keras upaya gajah tersebut, semakin kuat pula hubungan yang terbentuk, sampai kemudian jalan setapak itu berubah menjadi jalan, dan kemudian menjadi jalan dua arah.

Akhirnya, tiba saatnya ketika hubungan antar sel-sel saraf itu hampir mirip dengan jalan tol; sekarang ia menjadi jalan yang hampir-hampir bebas hambatan dan menjadi kebiasaan dan keyakinan yang dikondisikan.

Ketika si gajah sudah tumbuh dewasa dan mampu mencabut sebatang pohon, ia dicegah agar tidak berjalan-jalan hanya dengan mengikatnya dengan sepotong rantai biasa yang dikaitkan ke sebuah patok kecil di atas tanah. Hanya itu yang dibutuhkan karena gajah tersebut sudah dikondisikan untuk percaya bahwa ia tidak dapat mencabut patok itu dari tanah.
(reference: Life Mapping, Brian Mayne & Sangeeta Mayne, Penerbit Kaifa, 2005)

Kini, bikin website jadi lebih mudah

  • September 8, 2008

Selama ini saya susah banget bikin website. Paling bisa juga hanya pakai FrontPage. Itu pun hasilnya parah banget.

Untunglah ada blog.

Setahun ini saya mulai menyukainya, dan membuat beberapa blog. Tapi tetap saja tampilannya sangat sederhana, kurang sentuhan seni. Terus terang saya lemah sekali dalam desain, apalagi bikin header, banner, logo, dan sejenisnya.

Untuk beberapa keperluan, saya tetap memerlukan website, terutama untuk web bisnis seperti company profile atau product profile. Pakai blog kayaknya kurang pas juga.

Akhirnya saya cari-cari informasi di google, barangkali ada “desainer” yang mau bantu. Alhamdulillah setelah dibanding-banding, pilihan saya jatuh pada doTemplate.com

Dengan bantuan “sang desainer” ini kesulitan saya jadi teratasi. Caranya mudah sekali:

  • Pilih model template web yang disukai
  • customize beberapa bagian, termasuk banner header, header text,  slogan, model navigasi, warna, background, dsb sesuai selera kita
  • download hasilnya
  • Nah sekarang tinggal ganti teks untuk isi/content, dan beberapa perubahan pada kode-kode script (kalau mau)

Udah! Beres.

Emansipasi dan hak anak

  • September 8, 2008

Emansipasi mungkin kata yang paling menyenangkan bagi perempuan dewasa, namun bisa jadi merupakan kata yang menyebalkan bagi anak-anak. Bagaimana tidak, emansipasi membuat ibunya bisa bekerja di luar rumah, meninggalkan mereka hanya dengan pembantu atau nenek-kakek yang sebenarnya sudah lelah mengurus anak kecil.

Realitas zaman modern menuntut serba banyak kepada setiap orang untuk bekerja keras, tak terkecuali kaum ibu. Hal itu ternyata memicu persoalan baru dalam hal pengasuhan anak-anak. Karena para ibu harus juga bekerja untuk menambah pemenuhan ekonomi keluarga, anak-anak terpaksa harus dititipkan kepada orang lain.

Hal itu kini menjadi lumrah namun juga menyisakan pertanyaan, bagaimana nasib anak-anak di masa yang akan datang. Jelas masa depan mereka bukan hanya terletak pada persoalan terjaminnya pendidikan formal atau terpenuhinya kebutuhan materil. Masa depan anak-anak juga menyangkut bagaimana mereka nanti memandang hidup dan bagaimana mereka menentukan peran-peran apa yang harus mereka jalani.Continue reading

Awas! blog anda bisa di-install orang

Lagi searching di google, tiba-tiba saya menemukan blog wp yang error. Tertulis disitu, “It doesn’t look like you’ve installed WP yet. Try running install.php.

Iseng saya klik “install.php” itu. Waw … ternyata running dan masuk ke langkah-langkah instalasi blog tsb. Tapi ngga saya terusin.

Tampaknya yang punya blog ngga menyadari hal itu. Mungkin ia baru saja selesai meng-upload file-file wordpress nya, namun tidak diteruskan proses installasinya. Barangkali belum sempat. Tapi yang ia tidak sadari, ini kan berbahaya. Bisa-bisa blog dia diambil alih oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Apalagi saya lihat namadomain-nya oke banget.

Yah, mungkin ini juga jadi pelajaran bagus buat saya. Jangan sekali-sekali meninggalkan pekerjaan penting! Teruslah bekerja sampai tuntas!